Tag Archives: legenda candi prambanan

Candi Hindu dan Keemasan Peradaban Nusantara

Standar

Candi Hindu dan Keemasan Peradaban Nusantara

KAWASAN arkeologi yang memiliki banyak sekali peninggalan purbakala, salah satunya Yogyakarta. Peninggalan-peninggalan tersebut berupa candi-candi, istana dan makam raja-raja, goa-goa maupun tempat-tempat peristirahatan raja-raja zaman dulu. Semua peninggalan tersebut tersebar hampir di seluruh kawasan DIY dari barat di hingga ujung timur.

desain candi prambanan

desain candi prambanan

Dengan diketemukannya kompleks Candi Prambanan atau biasa disebut juga Candi Loro Jonggrang di sekitar pinggiran kota Yogyakarta ke arah timur yang berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah, para ahli berpendapat dulu di sekitar daerah tersebut merupakan pusat kebudayaan dan ibu kota kerajaan. Bukti-bukti tertulis yang ditemukan pada candi-candi tersebut juga membuktikan bahwa Jawa Tengah pada pemerintahan Mataram Kuno merupakan masa keemasan perkembangan agama Hindu di Jawa.

Tentang kapan tepatnya candi Hindu terbesar di Jawa ini didirikan, sampai sekarang data otentik tentang hal ini belum ditemukan. Para ahli purbakala pun banyak yang berbeda penafsiran tentang kapan tepatnya Candi Prambanan ini berdiri. Tetapi para ahli arkeologi tersebut mempunyai kesamaan pendapat mengenai penemuan yang menuliskan bahwa zaman kejayaan Kerajaan Mataran Hindu di Jawa Tengah berkisar antara abad VII dan X Masehi. Dari kesamaan pendapat ini, Candi Prambanan yang merupakan candi Hindu termegah dan merupakan pusat kerajaan maka bisa disimpulkan bahwa candi ini berdiri diperkirakan pada abad VIII Masehi.

Mengenai siapa yang mendirikan Candi Prambanan juga masih simpang-siur. Menurut beberapa ahli pada masa itu di Jawa Tengah hanya satu dinasti yang memerintah yaitu Dinasti Syailendra yang menganut agama Buddha. Tetapi, ada juga sebagian ahli menuliskan bahwa pada masa tersebut ada dua dinasti yang memerintah Jawa Tengah, yakni Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya yang menganut agama Hindu. Bukti adanya dua dinasti yang memerintah Jawa Tengah dapat ditemukan di dua prasasti. Prasasti Canggal yang berangka tahun 732 Masehi membuktikan bahwa dinasti Sanjaya berkuasa dari tahun 732-907 Masehi. Sedangkan dinasti Syailendra dibuktikan dengan ditemukannya Candi Kalasan yang beraliran Buddha dengan menuliskan dinasti Syailendra berkuasa pada abad VII.

Bukti otentik dan data yang jelas yang berisi tentang kapan dan siapa raja yang membangun Candi Prambanan sampai hari ini belum diketahui. Satu-satunya bukti yang dihubungkan dengan tahun pendirian candi ini adalah sebuah prasasti yang berangka tahun 856 Masehi di Desa Wukir, Yogyakarta tersebut, menyebutkan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya mendirikan sebuah candi yang dideskripsikan cocok dengan gambaran Candi Prambanan. Ini diperkuat dengan tulisan pendek yang ditemukan pada Candi Prambanan yang menyebutkan nama Rakai Pikatan, sehingga disimpulkan candi ini berdiri pada abad IX.

Candi Prambanan ditemukan pada tahun 1733 oleh C.A. Lons dengan keadaan yang mengenaskan, bangunan dalam keadaan runtuh dan ditumbuhi semak belukar, dan baru tahun 1885 oleh Jr. JW Yzerman, Dr Groneman dan Th Van Erp mencoba mengumpulkan bagian-bagian candi. Usaha pemugaran candi ini terus berlanjut dan akhirnya selesai pada tahun 1982 dengan jumlah keseluruhan dalam kompleks Candi Prambanan terdiri atas 16 bangunan candi besar dan kecil. Di antaranya Candi Ciwa, Candi Wisnu, Candi Brahma, Candi Nandi, Candi Apit, Candi Kelir dan puluhan candi kecil-kecil.

Kompleks bangunan Candi Prambanan terdiri atas tiga halaman, yaitu halaman luar yang dikelilingi oleh tembok yang berukuran 222 m x 390 m, kedua adalah halaman tengah yang dikelilingi oleh tembok berukuran 110 m x 110 m, sedangkan halaman terakhir merupakan pusat candi yang dikelilingi oleh tembok berukuran 110 m x 110 m. Sementara untuk menghubungkan ketiga halaman tersebut terdapat empat buah gapura yang terletak pada keempat sisi. Semua candi tersebut terletak di pusat halaman tengah.

Catatan tentang fungsi candi-candi tersebut juga tidak ada, tetapi seperti telah disebutkan, bahwa Candi Prambanan dipercaya pada masa itu sebagai pusat kebudayaan dan ibu kota kerajaan. Maka disimpulkan bahwa kompleks Candi Prambanan merupakan tempat persembahyangan raja-raja. Ini dapat dilihat dari besar dan luasnya bangunan kompleks yang megah, yang dibangun khusus untuk kerabat keraton. Hal ini terlihat dari pahatan atau relief pada sekeliling candi yang menggambarkan makhluk-makhluk sorga, dan replika Gunung Mahameru yang diyakini merupakan tempat bersemayamnya dewa-dewa. Selain itu, terdapat arca Nandiswara dan Mahakala yang merupakan manifestasi dari Dewa Ciwa yang dianut oleh Dinasti Sanjaya yakni Hindu Ciwa.

Dari Spiritual ke Ekonomis

Sejarah terus berubah seiring dengan makin tuanya usia bumi, begitu pula dengan perkembangan kebudayaan yang makin lama makin tergeser, kebudayaan dan kepercayaan yang telah ada terlebih dahulu tergeser dengan kebudayaan dan kepercayaan baru.

Pesatnya perkembangan pengaruh Islam dari Gujarat, India yang masuk ke Indonesia lewat pesisir Jawa, juga berpengaruh terhadap runtuhnya Kerajaan Hindu Majapahit, akhirnya kebudayaan ini terus bergeser ke arah timur. Hal ini yang juga mengakibatkan peninggalan-peninggalan Kerajaan-kerajaan Hindu seperti candi-candi mulai ditinggalkan fungsinya sebagai sarana spiritual dan peribadatan.

Memasuki abad modern sejak abad ke-19, peninggalan dari zaman klasik dari abad IV, sebagian besar peninggalan candi-candi kecil yang terkubur di dalam tanah akibat bencana meletusnya Gunung Merapi, mulai kembali ditemukan oleh ahli-ahli arkeologi. Penemuan-penemuan yang diawali dengan ditemukannya dua candi terbesar di Jawa yakni Candi Prambanan dan Candi Borobudur.

Sejalan dengan perkembangan dunia pariwisata akhirnya dua candi besar — Candi Borobudur dan Prambanan — serta Keraton Ratu Boko oleh pemerintah dijadikan objek wisata andalan DIY dan Jawa Tengah yang pengelolaannya diserahkan kepada pihak swasta yakni PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Tetapi, perubahan fungsi ini tidak secara keseluruhan. Umat Hindu khususnya yang berada di DIY dan Jawa Tengah masih memandang Candi Prambanan dan kompleks Keraton Ratu Boko sebagai tempat suci umat Hindu dan juga sebagai peninggalan terpenting umat Hindu di Jawa. Walaupun tidak setiap saat umat Hindu di DIY dan Jawa Tengah dapat melalukan persembahyangan di Candi Prambanan, acara ritual dalam kaitan hari besar agama Hindu rutin setiap tahun diadakan di Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko. Misalnya upacara Tawur Agung atau Marisudha Bumi untuk menyambut hari raya Nyepi.

Biasanya ribuan umat Hindu yang tesebar di DIY dan Jawa Tengah hadir pada upacara di Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko ini untuk melakukan persembahyangan. Pada hari ini biasanya juga pihak pengelola PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko sengaja tidak memungut bayaran tiket tanda masuk, pada hari ini pula Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko sengaja diprioritaskan untuk upacara Marisudha Bumi dan acara-acara kepariwisataan ditiadakan. Biasanya upacara dimulai di Keraton Ratu Boko untuk selanjutnya dikirab menuju Candi Prambanan dan puncak acara Tawur Agung ini dipusatkan di Candi Prambanan.

Candi-candi kecil tersebar di wilayah Yogyakarta. Pergeseran nilai-nilai kepercayaan dan praktik spiritual juga sering dijumpai dalam bentuk semedi atau tirakatan oleh masyarakat Jawa sekarang yang dilakukan di candi-candi kecil. Kebanyakan dari situs-situs atau candi-candi kecil tersebut kondisinya sangat memprihatinkan dan kurang terurus. Terlebih lagi apabila disertai legenda yang berkembang di masyarakat. Mungkin ini yang menyebabkan candi yang sudah cukup tua usianya kelihatan angker dan mistis, sehingga cocok menjadi tempat untuk bersemedi atau bertirakat. Misalnya Candi Abang di Kecamatan Berbah, Piyungan, Yogyakarta. Menurut cerita yang berkembang, tempat ini dihuni makhluk halus bernama Kiai Jagal yang berbadan besar tetapi kerap kali menolong warga.

Ada juga Goa Sentono yang di dalamnya terdapat situs berbentuk lingga dan yoni yang menurut cerita dihuni oleh makhluk halus berwujud wanita cantik. Tempat ini sering kali didatangi orang-orang yang ingin bertirakat untuk mendaptkan pengasihan atau kekayaan. Cerita mistis juga berkembang di sekitar keberadaan situs Payak, sebuah permandian yang dipercaya sebagai tempat mandi Dewa Siwa. Di tempat ini menurut juru kunci di sana, tempat tinggal Dewa Ciwa yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Hal ini pernah terbukti kebenarannya, setelah ada orang sakit keras dan melakukan tirakat di tempat tersebut, setelah beberapa lama orang tersebut sembuh. Cerita-cerita semacam ini banyak sekali dijumpai pada masyarakat di sekitar candi-candi yang tersebar di Yogyakarta.

C A N D I

Standar

candi prambanan

CANDI

Kata “candi” mengacu pada berbagai macam bentuk dan fungsi bangunan, antara lain empat beribadah, pusat pengajaran agama, tempat menyimpan abu jenazah para raja, tempat pemujaan atau tempat bersemayam dewa, petirtaan (pemandian) dan gapura. Walaupun fungsinya bermacam-macam, secara umum fungsi candi tidak dapat dilepaskan dari kegiatan keagamaan, khususnya agama Hindu dan Buddha, pada masa yang lalu. Oleh karena itu, sejarah pembangunan candi sangat erat kaitannya dengan sejarah kerajaan-kerajaan dan perkembangan agama Hindu dan Buddha di Indonesia, sejak abad ke-5 sampai dengan abad ke-14.

Karena sjaran Hindu dan Buddha berasal dari negara India, maka bangunan candi banyak mendapat pengaruh India dalam berbagai aspeknya, seperti: teknik bangunan, gaya arsitektur, hiasan, dan sebagainya. Walaupun demikian, pengaruh kebudayaan dan kondisi alam setempat sangat kuat, sehingga arsitektur candi Indonesia mempunyai karakter tersendiri, baik dalam penggunaan bahan, teknik kontruksi maupun corak dekorasinya. Dinding candi biasanya diberi hiasan berupa relief yang mengandung ajaran atau cerita tertentu.

Dalam kitab Manasara disebutkan bahwa bentuk candi merupakan pengetahuan dasar seni bangunan gapura, yaitu bangunan yang berada pada jalan masuk ke atau keluar dari suatu tempat, lahan, atau wilayah. Gapura sendiri bisa berfungsi sebagai petunjuk batas wilayah atau sebagai pintu keluar masuk yang terletak pada dinding pembatas sebuah komplek bangunan tertentu. Gapura mempunyai fungsi penting dalam sebuah kompleks bangunan, sehingga gapura juga nencerminkan keagungan dari bangunan yang dibatasinya. Perbedaan kedua bangunan tersebut terletak pada ruangannya. Candi mempunyai ruangan yang tertutup, sedangkan ruangan dalam gapura merupakan lorong yang berfungsi sebagai jalan keluar-masuk.

Beberapa kitab keagamaan di India, misalnya Manasara dan Sipa Prakasa, memuat aturan pembuatan gapura yang dipegang teguh oleh para seniman bangunan di India. Para seniman pada masa itu percaya bahwa ketentuan yang tercantum dalam kitab-kitab keagamaan bersifat suci dan magis. Mereka yakin bahwa pembuatan bangunan yang benar dan indah mempunyai arti tersendiri bagi pembuatnya dan penguasa yang memerintahkan membangun. Bangunan yang dibuat secara benar dan indah akan mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi masyarakat. Keyakinan tersebut membuat para seniman yang akan membuat gapura melakukan persiapan dan perencanaan yang matang, baik yang bersifat keagamaan maupun teknis.

Salah satu bagian terpenting dalam perencanaan teknis adalah pembuatan sketsa yang benar, karena dengan sketsa yang benar akan dihasilkan bangunan seperti yang diharapkan sang seniman. Pembuatan sketsa bangunan harus didasarkan pada aturan dan persyaratan tertentu, berkaitan dengan bentuk, ukuran, maupun tata letaknya. Apabila dalam pembuatan bangunan terjadi penyimpangan dari ketentuan-ketentuan dalam kitab keagamaan akan berakibat kesengsaraan besar bagi pembuatnya dan masyarakat di sekitarnya. Hal itu berarti bahwa ketentuan-ketentuan dalam kitab keagamaan tidak dapat diubah dengan semaunya. Namun, suatu kebudayaan, termasuk seni bangunan, tidak dapat lepas dari pengaruh keadaan alam dan budaya setempat, serta pengaruh waktu. Di samping itu, setiap seniman mempunyai imajinasi dan kreatifitas yang berbeda.

Sampai saat ini candi masih banyak didapati di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Sumatra, Jawa, dan Bali. Walaupun sebagian besar di antaranya tinggal reruntuhan, namun tidak sedikit yang masih utuh dan bahkan masih digunakan untuk melaksanakan upacara keagamaan. Sebagai hasil budaya manusia, keindahan dan keanggunan bangunan candi memberikan gambaran mengenai kebesaran kerajaan-kerajaan pada masa lampau.

Candi-candi Hindu di Indonesia umumnya dibangun oleh para raja pada masa hidupnya. Arca dewa, seperti Dewa Wishnu, Dewa Brahma, Dewi Tara, Dewi Durga, yang ditempatkan dalam candi banyak yang dibuat sebagai perwujudan leluhurnya. Bahkan kadang-kadang sejarah raja yang bersangkutan dicantumkan dalam prasasti persembahan candi tersebut. Berbeda dengan candi-candi Hindu, candi-candi Buddha umumnya dibangun sebagai bentuk pengabdian kepada agama dan untuk mendapatkan ganjaran. Ajaran Buddha yang tercermin pada candi-candi di Jawa Tengah adalah Buddha Mahayana, yang masih dianut oleh umat Buddha di Indonesia sampai saat ini. Berbeda dengan aliran Buddha Hinayana yang dianut di Myanmar dan Thailand.

Dalam situs web ini, deskripsi mengenai candi di Indonesia dikelompokkan ke dalam: candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta, candi di Jawa Timur candi di Bali dan candi di Sumatra. Walaupun pada masa sekarang Jawa Tengah dan Yogyakarta merupakan dua provinsi yang berbeda, namun dalam sejarahnya kedua wilayah tersebut dapat dikatakan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Hindu, yang sangat besar peranannya dalam pembangunan candi di kedua provinsi tersebut. Pengelompokan candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta berdasarkan wilayah administratifnya saat ini sulit dilakukan, namun, berdasarkan ciri-cirinya, candi-candi tersebut dapat dikelompokkan dalam candi-candi di wilayah utara dan candi-candi di wilayah selatan.

Candi-candi yang terletak di wilayah utara, yang umumnya dibangun oleh Wangsa Sanjaya, merupakan candi Hindu dengan bentuk bangunan yang sederhana, batur tanpa hiasan, dan dibangun dalam kelompok namun masing-masing berdiri sendiri serta tidak beraturan beraturan letaknya. Yang termasuk dalam kelompok ini, di antaranya: Candi Dieng dan Candi Gedongsanga. Candi di wilayah selatan, yang umumnya dibangun oleh Wangsa Syailendra, merupakan candi Buddha dengan bentuk bangunan yang indah dan sarat dengan hiasan. Candi di wilayah utara ini umumnya dibangun dalam kelompok dengan pola yang sama, yaitu candi induk yang terletak di tengah dikelilingi oleh barisan candi perwara. Yang termasuk dalam kelompok ini, di antaranya: Candi Prambanan, Candi Mendut, Candi Kalasan, Candi Sewu, dan Candi Borobudur.

Candi-candi di Jawa Timur umumnya usianya lebih muda dibandingkan yang terdapat di Jawa Tengah dan Yogyakarta, karena pembangunannya dilakukan di bawah pemerintahan kerajaan-kerajaan penerus kerajaan Mataram Hindu, seperti Kerajaan Kahuripan, Singasari, Kediri dan Majapahit. Bahan dasar, gaya bangunan, corak dan isi cerita relief candi-candi di Jawa Timur sangat beragam, tergantung pada masa pembangunannya. Misalnya, candi-candi yang dibangun pada masa Kerajaan Singasari umumnya dibuat dari batu andesit dan diwarnai oleh ajaran Tantrayana (Hindu-Buddha), sedangkan yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit umumnya dibuat dari bata merah dan lebih diwarnai oleh ajaran Buddha.

Candi-candi di Bali umumnya merupakan candi Hindu dan sebagian besar masih digunakan untuk pelaksanaan upacara keagamaan hingga saat ini. Di Pulau Sumatra terdapat 2 candi Buddha yang masih dapat ditemui, yaitu Candi Portibi di Provinsi Sumatra Utara dan Candi Muara Takus di Provinsi Riau.

Sebagian candi di Indonesia ditemukan dan dipugar pada awal abad ke-20. Pada tanggal 14 Juni 1913, pemerintah kolonial Belanda membentuk badan kepurbakalaan yang dinamakan Oudheidkundige Dienst (biasa disingkat OD), sehingga penanganan atas candi-candi di Indonesia menjadi lebih intensif. Situs web ini direncanakan akan memuat deskripsi seluruh candi yang ada di Indonesia, namun saat ini belum semua candi dapat terliput.